saya tidak pernah pandai menolak keinginan seseorang, apalagi jikalau harus menolak secara langsung, saya sungguh tidak mampu. Biasanya saya akan melakukan penolakan dengan cara sehalus mungkin, berbelit-belit, sampai kadang-kadang menjadi senjata makan tuan, karena orang yang seyogyanya saya tolak malahan jadi tidak sadar bahwa saya sedang mencoba melakukan proses penolakan yang begitu rumit.
Kenapa? mungkin karena saya tahu betapa sakitnya kalau harus ditampar dengan penolakan, atau mungkin memang saya jenis pengecut yang tidak pernah sampai hati menanggung beban menyakiti orang lain dengan penolakan.
seorang teman pernah bermetafora, daripada terlanjur melambung tinggi kemudian dijatuhkan sampai hancur berkeping-keping, lebih baik dijatuhkan ketika kita masih terbang rendah, karena setidaknya kerusakan yang ditimbulkan tidak akan parah.
Tetapi saya adalah penganut filosofi yang berbeda.
Bagi saya, kalau bisa meletakkannya pelan-pelan, kenapa kita harus melemparkannya sampai jatuh?
*Hei cantik, kamu lagi mimpi ya?, gimana kalau ada 5 pria melamar kamu bersamaan? masak mau kamu terima lamaran kelima-limanya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar